Tips Singkat Menulis Asyik
“Pendidikan itu akarnya pahit, tapi buahnya manis” (Aristoteles)
Bekerja yang tak bersandar pada keikhlasan dan kesenangan, hanya akan membuat pekerjaan itu berakhir tanpa penyelesaian berarti, termasuk menulis.
Mengapa? Karena menulis juga bagian dari aktualisasi diri manusia dalam usaha menerjemahkan pikiran dan keping-keping pengalaman. Namun seberapa orang manusia indonesiakah yang menganggap menulis it u menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengasyikan?
Kita –kebanyakan mahasiswa menulis— hanya untuk kebutuhan spontan, dan parahnya itu juga dilakukan secara spontan, tidak matang, dan penuh dengan tanda tanya besar, karena apa yang telah dituliskan pun masih sebatas copy paste pemikiran orang lain, belum terjadi sintesis antara diri dan pemikirn orang lain tersebut.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang akan anda lakukan untuk belajar menulis? Mengetahui teknik menulis, baru anda menulis, atau sebaliknya. Itu kembali terserah kepada anda, namun kalau anda selalu menunggu, maka penundaan sudah dapat dipastikan malapetaka bagi mereka yang sangat ragu mengambil keputusan.
Ada beberapa tahapan yang dapat anda lakukan untuk menambah kapasitas menulis anda, yakni:
1) belajarlah membaca apapun, pelajarilah bagaimana si penulis membawa anda masuk ke dalam ide sang penulis.
2) setelah itu, cobalah banding2kan dengan penulis lainnya. adakah kesamaan persepsi antara sang penulis dengan anda sendiri tentang isu atau pemikiran yang sedang diangkat.
3) aktivitas membaca disinyalir memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan menulis.
4) kalau anda termasuk orang yang malas menulis, minimal pikirkanlah apa yang mau anda tulis, terus dan terus. jangan biarkan ia berlari dari kejaran anda.
5) catatlah ide-ide penting untuk dijadikan referensi atau masukan bagi kita tentang karya yang anda buat.
6) ide berkembang, karena kompleksitas masalah. Untuk menjadi seorang penulis, kita harus kembangkan “sistem berpikir”; 10 persen masalah, 90 solusi. Namun untuk ajang diskusi dan perdebatan, tidak melulu solusi konkret yang ditawarkan, namun pula perspektif melihat masalah pun perlu tertuang agar terjadi proses pembelajaran dan pencerahan.
7) agar ide anda dibaca publik maka mau tak mau anda harus mau menulis dari sekarang. Mulai detik ini!
Mengapa? Karena menulis juga bagian dari aktualisasi diri manusia dalam usaha menerjemahkan pikiran dan keping-keping pengalaman. Namun seberapa orang manusia indonesiakah yang menganggap menulis it u menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengasyikan?
Kita –kebanyakan mahasiswa menulis— hanya untuk kebutuhan spontan, dan parahnya itu juga dilakukan secara spontan, tidak matang, dan penuh dengan tanda tanya besar, karena apa yang telah dituliskan pun masih sebatas copy paste pemikiran orang lain, belum terjadi sintesis antara diri dan pemikirn orang lain tersebut.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang akan anda lakukan untuk belajar menulis? Mengetahui teknik menulis, baru anda menulis, atau sebaliknya. Itu kembali terserah kepada anda, namun kalau anda selalu menunggu, maka penundaan sudah dapat dipastikan malapetaka bagi mereka yang sangat ragu mengambil keputusan.
Ada beberapa tahapan yang dapat anda lakukan untuk menambah kapasitas menulis anda, yakni:
1) belajarlah membaca apapun, pelajarilah bagaimana si penulis membawa anda masuk ke dalam ide sang penulis.
2) setelah itu, cobalah banding2kan dengan penulis lainnya. adakah kesamaan persepsi antara sang penulis dengan anda sendiri tentang isu atau pemikiran yang sedang diangkat.
3) aktivitas membaca disinyalir memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan menulis.
4) kalau anda termasuk orang yang malas menulis, minimal pikirkanlah apa yang mau anda tulis, terus dan terus. jangan biarkan ia berlari dari kejaran anda.
5) catatlah ide-ide penting untuk dijadikan referensi atau masukan bagi kita tentang karya yang anda buat.
6) ide berkembang, karena kompleksitas masalah. Untuk menjadi seorang penulis, kita harus kembangkan “sistem berpikir”; 10 persen masalah, 90 solusi. Namun untuk ajang diskusi dan perdebatan, tidak melulu solusi konkret yang ditawarkan, namun pula perspektif melihat masalah pun perlu tertuang agar terjadi proses pembelajaran dan pencerahan.
7) agar ide anda dibaca publik maka mau tak mau anda harus mau menulis dari sekarang. Mulai detik ini!
8) ketika tulisan sudah selesai, beranikanlah untuk didiskusikan dengan teman atau orang tua, bahkan dosen sekalipun.
9) proses perbaikan terjadi secara terus menerus. Karena untuk bisa menulis yang diperlukan adalah kontinuitas membahas ide dan jelas itu perlu. Untuk kemajuan atau kelemahan yang anda dapat merupakan dinamika yangnya mudah2an tidak ada kata KALAH.
Selamat menulis, kompasianer!
(artikel yang diperbaharui)
source : http://media.kompasiana.com/new-media/2009/12/02/tips-singkat-menulis-asyik/